Pada bagian sebelumnya, kita telah mengenal geoid sebagai bidang referensi vertikal yang digunakan untuk menentukan tinggi di permukaan bumi. Namun, muncul pertanyaan: apakah geoid benar-benar stabil seiring waktu?
Penelitian terbaru yang kami lakukan di Pulau Jawa menunjukkan bahwa geoid memang dapat mengalami perubahan akibat berbagai proses alam, seperti gempa bumi, penurunan muka tanah (land subsidence), dan perubahan massa air yang berkaitan dengan siklus hidrologi. Meskipun demikian, besarnya perubahan tersebut relatif sangat kecil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi tinggi geoid akibat gempa bumi hanya mencapai sekitar 8 mm, akibat penurunan muka tanah sekitar 5,5 mm dalam kurun waktu 25 tahun, dan akibat dinamika hidrologi sekitar 9 mm. Semua nilai tersebut masih berada di bawah 1 cm.
Sebagai bagian dari penelitian ini, kami juga mengembangkan model geoid regional baru untuk Pulau Jawa, yaitu ITBJ_2025. Model ini menunjukkan peningkatan akurasi dibandingkan model yang telah tersedia sebelumnya, yaitu InaGEOID2020 v2.0 dan EGM2008.
Temuan ini menunjukkan bahwa geoid saat ini masih merupakan bidang referensi vertikal yang sangat stabil untuk berbagai aplikasi geodesi, pemetaan, dan rekayasa. Namun, seiring berkembangnya teknologi pengukuran yang semakin presisi hingga tingkat sentimeter bahkan sub-sentimeter, pengaruh proses lingkungan seperti gempa bumi, subsidensi, dan perubahan hidrologi perlu mulai diperhitungkan dalam pengembangan model geoid masa depan.
Dengan kata lain, geoid tetap menjadi referensi yang andal saat ini, tetapi pemahaman terhadap perubahan-perubahan kecil yang terjadi akan menjadi semakin penting untuk mendukung kebutuhan geospasial yang semakin presisi di masa mendatang.
Penelitian kami dapat dilihat pada tautan berikut.
