Geoid merupakan suatu bidang referensi vertikal yang dapat memastikan penggunanya untuk mendapatkan hasil pengukuran posisi yang konsisten (lihat https://brianbramanto.my.id/kenapa-menggunakan-geoid/). Lantas, adakah keunggulan lainnya dari penggunaan geoid sebagai acuan referensi vertikal?
Secara konvensional, sejatinya, kita juga dapat menentukan tinggi dengan menggunakan pilar-pilar benchmark yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan portal jaring kontrol geodesi yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) pada laman https://srgi.big.go.id/, telah terdapat ribuan pilar-pilar jaring kontrol geodesi yang memiliki nilai koordinat yang dapat digunakan sebagai referensi (lihat Gambar dibawah). Jaring kontrol geodesi tersebut umumnya berwarna biru dan berbentuk seperti pilar tugu yang menunjol, serta memiliki penanda titik yang menyatakan posisi teliti dari koordinat yang telah diberikan.


Pertanyaan selanjutnya, apabila kita telah memiliki jaring kontrol geodesi yang tersebar cukup banyak di Indonesia, kenapa kita masih harus memiliki geoid yang teliti?
Untuk menjawab hal tersebut, mari kita melihat kondisi geografis Indonesia. Terletak di pertemuan antar lempeng, membuat Indonesia memiliki tingkat seismisitas yang sangat tinggi. Berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada tahun 2024, setidaknya tercatat bahwa Indonesia mengalami kejadian gempa sebanyak 7.358 kali. Dampak dari gempa tersebut tentunya adalah perubahan posisi pada daerah di sekitar terjadinya gempa. Nilai pergerakan tersebut dapat bervariasi dari beberapa mm hingga dalam satuan meter. Misalnya, Gahaluaut dkk. (2006) menyampaikan bahwa pergerakan dapat mencapai lebih dari 3 meter untuk beberapa lokasi akibat gempa megatrust yang terjadi pada tahun 2004 di wilayah Sumatra.
Tentunya, akibat pergerakan yang signifikan tersebut, posisi dari pilar-pilar jaring kontrol geodesi juga akan bergerak secara signifikan. Hal tersebut menyebabkan kesalahan sistematis dengan besaran yang sama dengan perpindahan akibat gempa apabila menggunakan jaring kontrol geodesi yang telah berubah atau berpindah.
Bagaimana apabila kita menggunakan geoid? Apakah nilai dari geoid tersebut juga berubah? Apabila kita melihat aspek fundamentalnya, perubahan nilai gayaberat pasti akan terjadi karena adanya redistribusi massa yang terjadi. Dengan demikian nilai geoid juga akan berubah.
Penelitian dari Tanaka dkk (2019) terkait perubahan geoid akibat gempa Sumatra 2004 dan 2012 menunjukkan hasil yang sangat menarik. Mereka menggunakan pengukuran satelit gayaberat pada rentang waktu 2004 hingga 2016 menunjukkan bahwa perubahan geoid di kawasan tersebut sangat kecil apabila dibandingkan dengan akurasi pengukuran pada kegiatan pemetaan. Perubahan geoid berkisar antara -9 hingga 9 mm! Dengan demikian, secara praktis geoid dapat dikatakan stabil terhadap waktu, meskipun telah mengalami gempa yang sangat signifikan!

Dengan menimbang fakta yang telah diuraikan sebelumnya, rasanya sudah jelas kenapa pada era pengukuran modern ini, geoid menjadi sangat penting. Salah satunya adalah fakta bahwa geoid tersebut memiliki nilai yang stabil apabila dibandingkan dengan tingkat akurasi pengukuran saat ini.