Sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia, mungkin belum banyak yang tahu mengetahui mengenai terminologi dari GNSS dan lebih mengenal dengan terminologi GPS Kedua terminologi tersebut sebenarnya menceritakan sebuah hal yang sama, yaitu penentuan posisi berbasiskan satelit, namun dengan pendekatan yang berbeda. GPS merupakan kependekan dari Global Positioning System yang merupakan sistem penentuan posisi berbasiskan satelit dan dikembangkan oleh Amerika Serikat, sedangkan GNSS merupakan Global Navigation Satellite System.
Berdasarkan namanya, GNSS dapat diartikan sebagai teminologi umum untuk penentuan posisi berbasiskan satelit yang beroperasi secara global. GNSS sendiri gabungan dari seluruh sistem penentuan posisi seperti GPS, Glonass (dikembangkan oleh Rusia), Galileo (dikembangkan oleh Eropa), Beidou (dikembangkan oleh Tiongkok), dan sistem lainnya yang bersifat regional, misalnya QZSS (dikembangkan oleh Jepang) dan IRNSS (dikembangkan oleh India).
Teknologi GNSS tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, misalnya keperluan navigasi, ilmiah, maupun kebutuhan rekaya. Akurasi dari penentuan posisi yang dihasilkanpun sangat beragam, mulai dari beberapa meter hingga mencapai ketelitian yang sangat tinggi (mm). Tentu saja, untuk mendapatkan akurasi yang sangat tinggi tersebut dibutuhkan metode pengolahan yang tepat. dan tidak semua orang (bahkan enjiner) dapat mendapatkan akurasi pengolahan data yang mencapai mm.
Penggunaan dari Teknologi GNSS
Meskipun anda belum pernah mendengar atau menggunakan teknologi GNSS, sebenarnya secara tidak sadar, kita (masyarakat pada umumnya) telah menggunakan tekonologi GNSS tersebut. Ketika kita sedang lapar dan tidak bergairah untuk keluar, kita sering menggunakan aplikasi ojek daring untuk memesan makanan. Selain itu ketika kita tidak mengetahui rute jalan untuk menuju suatu lokasi, kita juga sering menggunakan gawai pintar kita untuk menentukan rute jalan tersebut. Ya, gawai pintar kita tersebut sebenarnya telah tertanam teknologi penentuan posisi berbasiskan satelit yang mampu kita gunakan untuk menentukan posisi, sehingga dengan mudah para ojek tersebut mencapai posisi kita, dan sebaliknya. Pada kondisi demikian, akurasi penentuan posisi yang dibutuhkan cukup beberapa meter saja.
Untuk kebutuhan rekayasa, seperti pemetaan, dibutuhkan posisi dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi (beberapa cm hingga mm). Bahkan untuk keperluan ilmiah, seperti penentuan laju deformasi, penurunan muka tanah, dan kebutuhan ilmiah yang membutuhkan akurasi tinggi lainnya, mutlak diperlukan posisi dengan tingkat akurasi mencapai mm. Pada kondisi ini, gawai pintar kita tidak dapat lagi digunakan. Kita membutuhkan perangkat penerima yang lebih baik lagi dan umum dikenal dengan sebutan receiver GNSS geodetic.
Catatan Penutup
GNSS merupakan suatu teknologi yang sangat berkembang pada beberapa dekade terkahir dan menggeser terminologi GPS, sehingga wajar saja bagi masyarakat umum (khususnya yang tidak mendalami geodesi) tidak familiar dengan terminologi GNSS. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menambah wawasan anda terkait teknologi GNSS dan sedikit pendahuluan mengenai penggunaan dari terknologi tersebut.
Sampai jumpa pada catatan selanjutnya!