Pemodelan geoid Indonesia merupakan hal yang saat ini tengah dilakukan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Hal tersebut dilakukan untuk memuktakhirkan model geoid Indonesia yang telah ada agar memiliki tingkat akurasi yang lebih baik. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh BIG, salah satunya adalah akuisisi data ukuran gayaberat terkini. Pengukuran gayaberat tersebut dilakukan dengan menggunakan wahana pesawat terbang dan juga terestris. Hasilnya, seluruh wilayah daratan di Indonesia telah tercakup secara keseluruhan.
Baca Juga: Benarkah Definisi Sistem Tinggi Kita Selama Ini?
Sebagai akademisi, peneliti, atau apapun sebutannya, hal yang telah disebutkan sebelumnya tentu saja memberikan sentilan positif untuk menjawab kebutuhan nyata, khususnya dalam bidang geodesi. Kami (berkolaborasi dengan BIG) mencoba untuk menerapkan pendekatan Stokes dengan kondensasi Helmert kedua untuk menjawab tantangan tersebut. Penelitian tersebut menitikberatkan pada wilayah Yogyakarta, Indonesia, dan hanya menggunakan data terestris gayaberat saja. Yogyakarta dipilih karena memang pada wilayah tersebut memiliki basis data yang relatif baik. Selain itu, hasil ukuran GNSS/leveling juga tersedia dengan akurasi yang cukup baik pada daerah yang dipilih.

Gambar tersebut merupakan hasil dari pemodelan geoid yang telah dilakukan untuk wilayah Yogyakarta, Indonesia. Terlihat bahwa geoid bervariasi antara 18 hingga 27 meter pada wilayah tersebut, Yang jadi pertanyaan kemudian adalah, apakah model yang telah dibuat tersebut memiliki akurasi yang cukup baik? Oleh karena itu, perlu dilakukan validasi dengan membandingkannya dengan geoid yang dihasilkan dari pengukuran GNSS/leveling. Pada kesempatan kali ini, lintasan GNSS/leveling yang digunakan ditunjukkan pada garis berwarna putih. Secara umum, standard deviasi dari simpangan antara geoid hasil pemodelan dengan GNSS/leveling adalah sekitar 7 hingga 8 cm. Nilai tersebut cukup baik dan tentunya dapat digunakan untuk berbagai aplikasi pemetaan secara praktis. Selain itu, penggunaan geoid tersebut tentunya dapat meningkatkan efisiensi kegiatan pemetaan apabila diintegrasikan dengan pengukuran menggunakan GNSS ataupun LiDAR.
Tentu saja, ini merupakan langkah awal dan masih banyak lagi hal yang dapat kita lakukan untuk memodelkan geoid secara lebih teliti lagi. Misalnya, dengan melibatkan juga data pengukuran gayaberat airborne maupun gayaberat altimetri.
Penelitian awal ini telah kami presentasikan pada Scientific Assembly of the International Association of Geodesy 2021 yang diadakan di Beijing pada tanggal 28 Juni hingga 2 Juli 2021. Bagi rekan-rekan yang tertarik dengan presentasi tersebut dan ingin menyaksikan rekaman dari presentasi tersebut dapat menuju ke laman resmi dari acara tersebut disini.