Dalam persepektif geodesi, kita telah mengetahui bahwa setidaknya terdapat dua macam referensi yang digunakan, yaitu geoid dan elipsoida. Kedua referensi tersebut memiliki arti yang berbeda, dimana geoid memiliki arti fisis dari Bumi yang sesungguhnya, sedangkan elipsoida merupakan pendekatan matematis yang bersifat geometris dari geoid tersebut. Karena arti fisis yang cukup kompleks tersebut, hasil dari pengukuran cenderung dinyatakan pada bentuk yang lebih sederhana (mereferensikan pada elipsoida).
Baca juga: Benarkah Definisi Sistem Tinggi Kita Selama Ini?
Pada kenyataannya, setiap kegiatan pemetaan menggunakan pengukuran terestris (theodolite, Electronic Total Station, dll) umumnya dilakukan dengan menyelaraskan gelembung niveau. Dengan demikian, kegiatan pemetaan tersebut berkaitan erat dengan vektor gayaberat bumi dan hal tersebut dapat menyebabkan pertentangan antara koordinat yang dinyatakan dengan arti fisis yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, terdapat hal yang harus diperhitungkan dalam reduksi data ukuran dan perataan, yaitu defleksi vertikal.
Defleksi vertikal (θ) sejatinya merupakan besarnya simpangan sudut yang dihasilkan antara garis gayaberat dengan garis normal elipsoida pada suatu titik sembarang. Nilai dari defleksi tersebut disebabkan oleh ketidakteraturan dari struktur geologi dibawah permukaan bumi ataupun dapat disebabkan adanya massa yang sangat besar, misalnya pegunungan. Di daerah pegunungan yang terdapat di Pulau Papua, defleksi vertikal dapat mencapai 50 detik.
Defleksi vertikal merupakan besaran vektor yang dapat diuraikan menjadi dua komponen yang saling tegak lurus. Kedua komponen tersebut adalahpada arah utara-selatan (ξ) dan timur-barat (η). Dengan demikian, terminologi tersebut dapat dinyatakan dalam theorema Pythagoras sebagai berikut:
\theta^2 = \xi^2 + \eta^2
dan setiap komponen dari defleksi vertikal pada arah azimuth (α) dapat dinyatakan dengan:
\varepsilon = \xi \cos \alpha + \eta \cos \alpha
Dibutuhkan pemahaman yang lebih dalam terkait penggunaan dari terminologi tersebut, misalnya titik dimana defleksi vertikal tersebut berlaku. Selain secara lateral, nilainya juga bervariasi tergantung pada posisinya di sepanjang garis unting-unting. Dengan demikian, hal tersebut dapat didefinisikan di permukaan geoid, maupun permukaan ekipotensial lainnya, dan juga titik lain seperti permukaan bumi. Pada catatan-catatan selanjutnya akan dibahas mengenai dua kasus dari penggunaan terminologi tersebut, yaitu pada permukaan geoid dan permukaan bumi.
Sampai jumpa pada catatan selanjutnya!